Tampilkan postingan dengan label Stategi Belajar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stategi Belajar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

KULIAH TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


LATIHAN BAB 5 PRINSIP- PRINSIP PEMBELAJARAN 
1.      Uraikan beberapa dasar pemikiran yang mendorong perlunya penerapanprinsip-prinsip belajar di dalam pembelajaran ! 
Jawab :
a.       Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebutuntuknya.
b.      Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuksetiap kelompok umur, terdapat pariasi dalam kecepatan belajar.
c.       Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segeradiberikan penguatan (reinforcement).
d.      Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran,memungkinkan murid belajar secara lebih berarti.
e.       Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, makaia lebih termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat lebihbaik.

2.      Dari kajian anda terhadap beberapa sumber, coba simpulkan hakikat prinsip-prinsip belajar! 
Jawab :
Hakikat prinsip-prinsip belajar :
a.       Belajar memerlukan motivasi yang kuat yang akan menjadi pendorong bagiseseorang agar memiliki energi atau melakukan sesuatu dengan penuhsemangat.
b.      Belajar siswa dilakukan melalui proses bukan hasil.
c.       Pentingnya keaktifan anak di dalam proses pembelajaran.
d.      Belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman langsung.
e.       Dengan pengulangan, pengalaman-pengalaman belajar maka akan semakinmemperkuat hubungan stimulus dan respon.
f.       Siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang sertaramah, dan mereka memiliki peran dalam pengambilan keputusan.
g.      Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui danmendapatkan hasil yang baik
h.      Proses pembelajaran yang dilakukan menyentuh kepentingan siswa, minat-minat mereka kemampuan serta berbagai karakteristik lain yang terdapatpada siswa.
i.        Seluruh aktifitas pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guruharus bermuara pada terjadinya proses belajar siswa.

3.      Berikan gambaran aktifitas pembelajaran dikelas yang berlangsung tanpamemperhatikan prinsip-prinsip belajar! 
Jawab :
·         Tidak adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran, mereka hanyamenerima saja.
·         Tidak adanya tanggung jawab pada diri siswa untuk menyelessaikan tugas.
·         Proses belajar tidak terarah.
·         Siswa tidak memiliki semangat yang kuat untuk belajar karena tidakadanya kesempatan melakukan sendiri.

4.      Jelaskan prinsip-prinsip belajar yang anda pahami! 
Jawab:
a.       Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan dua aktifitas yang memiliki keterkaitanyang sangat erat. Untuk menumbuhkan perhatian diperlukan adanyamotivasi. tugas guru adalah meyakinkan para siswa agar tujuan belajaryang ingin diwujudkan menjadi kebutuhan bagi setiap siswa.
b.      Prinsip transfer dan retensi
Prinsip belajar yang menekankan adanya proses belajar yangmenggunakan daya ingat untuk dapat menguat retensi .
c.       Prinsip keaktifan
Prinsip keaktifan menekankan pada keaktifan siswa dalam belajar, sehinggasiswa dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.
d.      Prinsip keterlibatan langsung
Dalam proses ini siswa tidak sekedar aktif mendengar, mengamati danmengikuti akan tetapi terlibat langsung didalam melaksanakan suatupercobaan, peragaan atau mendemontrasikan sesuatu.
e.       Prinsip pengulangan
Prinsip ini menuntut siswa untuk memiliki kesadaran yang mendalam agarbersedia melakukan pengulangan latihan-latihan baik yang ditugaskan olehguru maupun atas inisiatif dan dorongan sendiri.
f.       Prinsip tantangan
Dalam prinsip ini guru memberikan pembelajaran yang membuat siswamerasa penasaran dan memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas yangdiberikan.
g.      Prinsip balikan dan penguatan
Ini merupakan implementasi dari teori belajar yang dikemukakan olehskiner melalui teori operant conditioning dan salah satu hukum belajar darithorndike yaitu “law of effect”.
h.      Prinsip perbedaan individual
Prinsip belajar ini melihat adanya perbedaan kemampuan dari masing-masing siswa, dimana guru harus mengenal dahulu siswa sehingga terjadiinteraksi belajar mengajar.

5.      Ambil beberapa prinsip belajar tertentu, kemudian anda jelaskanimplementasinya di dalam proses pembelajaran! 
Jawab:
a.       Prinsip pengulangan
Prinsip pengulangan bisa dilakukan ketika guru memberikan pembelajarancontohnya:- Menyanyikan lagu-lagu.-Membaca syair atau puisi.Kedua kegiatan diatas memerlukan latihan yang berulang-ulang agar siswadapat menyanyi atau membacakan syair dengan benar, sehingga siswaakan terbiasa dengan lagu atau syair tersebut.
b.      Prinsip tantangan
Prinsip ini dapat dilakukan pada kegiatan contohnya:- Bermain puzzle, dimana dalam bermain puzzle siswa diharapkan merasatertantang untuk menggabungkan potongan-potongan gambar menjadibentuk yang utuh.-Dalam pembelajaran sain misalnya, pencampuran warna, anak akanmelakukan eksperimen sendiri dengan mencampur beberapa warna.
c.       Prinsip keterlibatan langsung
Pada prinsip ini, guru mengajak siswa melakukan kegiatannya secaralangsung, contohnya , mendemontrasikan cara membuat teh manis ataukopi,atau memberi makan binatang peliharaan dll. Dengan cara ini anakakan merasakan langsung bagaimana caranya membuat teh manis atau kopi

Kamis, 29 Maret 2012

PENGERTIAN BELAJAR MENURUT PARA AHLI


Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi belajar menurut beberapa ahli"
Ø  NASUTION
Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan
Ø  ERNEST H. HILGARD
Belajar adalah dapat melakukan sesuatu yang dilakukan sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga lain caranya menghadapi sesuatu situasi daripada sebelum itu
Ø  NOTOATMODJO
Belajar adalah usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup
Ø  AHMADI A.
Belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia
Ø  OEMAR H.
Belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan
Ø  CRONBACH
Belajar sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu menggunakan panca indranya
Ø   WINKEL
Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan - perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap
Ø  NOEHI NASUTION
Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya perilaku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau adanya perubahan sementara karena suatu hal
Ø  SNELBECKER
Belajar adalah harus mencakup tingkah laku dari tingkat yang paling sederhana sampai yang kompleks dimana proses perubahan tersebut harus bisa dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal
Ø  WHITERINGTON
Belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian sebagaimana dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola respontingkah laku yang baru nyata dalam perubahan ketrampilan, kebiasaan, kesanggupan, dan sikap

RANAH RANAH BELAJAR MENURUT BLOOM

 
RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM

            Pada tahun 1956 Benyamin Bloom menyampaikan gagasannya berupa taksonomi tujuan pendidikan dengan menyajikannya dalam bentuk hirarki. Tujuan penyajian ke dalam bentuk system klasifikasi hirarki ini dimaksudkan untuk mengkategorisasi hasil perubahan pada diri siswa sebagai hasil buah pembelajaran. Bloom dalam taksonominya, yang selanjutnya disebut Taksonomi Bloom. Bloom dan Krathwohl menggunakan 4 prinsip-prinsip dasar dalam merumuskan taksonomi, antara lain:
1.      Prinsip metodologi
Perbedaan yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru dalam mengajar
2.      Prinsip psikologis
Taksonomi hendaknya konsisten fenomena kejiwaan yang ada sekarang
3.      Prinsip Logis
Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten
4.      Prinsip tujuan
Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai.

Taksonomi Bloom merupakan hasil kelompok penilai di Universitas yang terdiri dari B.S Bloom Editor M.D Engelhart, E Frust, W.H. Hill dan D.R Krathwohl, yang kemudian di dukung oleh Ralp W. Tyler. Bloom merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada 3 tingkatan :
  1. Kategori tingkah laku yang masih verbal
  2. Perluasan kategori menjadi sederetan tujuan
  3. Tingkah laku konkrit yang terdiri dari tugas-tugas dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai ujian dan butir-butir soal.

Pada awalnya Bloom mengklasifikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) dalam satu dimensi, maka Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu proses dan isi/jenis.
Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Sedangkan pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge).

Struktur dari original taksonomi Bloom (sebelum di revisi)
A.    Ranah Kognitif
Tujuan kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang tertinggi.yang meliputi 6 tingkatan:
1)      Pengetahuan (Knowledge), yang disebut C1
Menekan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Informasi yang dimaksud berkaitan dengan simbol-simbol matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-prinsip
Contoh: Sebutkan contoh-contoh dari bilangan rasional dan irrasional
2)      Pemahaman (Comprehension), yang disebut C2
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala implikasinya.
Contoh : Jelaskan pengertian dari bilangan rasional dan irrasional
3)      Penerapan (Aplication), yang disebut C3
Kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasikan pemahaman mereka berkenaan dengan sebuah abstraksi  matematika melalui penggunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk itu.
Contoh: Tentukan nilai dari   = ………
4)      Analisis (Analysis), yang disebut C4
Kemampuan untuk memilah sebuah informasi ke dalam komponen-komponen sedemikan hingga hirarki dan keterkaitan anta ride dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas.
Contoh  : Jumlah siswa SMK A 1400 orang, terdiri dari jurusan akuntansi, bisnis manajemen, perkantoran dan broadcasting. Bila jurusan akuntasi 200 orang, bisnis manajemen 250 orang, perkantoran 450 orang dan sisanya broadcasting, maka persentase jumlah siswa jurusan broadcasting adalah ….
5)      Sintesis (Synthesis) , yang disebut C5
Kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur  yang unik dan system. Dalam matematika, sintesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur matematika yang lain dan berbeda dari yang sebelumnya. Contoh : memformulakan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur-struktur matematika.
Contoh  : Manakah dari bilangan-bilangan berikut ini yang merupakan bilangan irrasional
a.       2                                 c.                                        e.
b.      0, 524389                   d. 0,123123123          
6)      Evaluasi (Evaluation), yang disebut C6
Kegiatan membuat penilaian berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara, atau metode. Evaluasi dapat memandu seseorang untuk mendapatkan pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru dan cara baru yang unik dalam analisis atau sisntesis.
Contoh : Jelaskan jenis-jenis himpunan bilangan asli beserta contohnya

Keenam jenjang berpikir yang terdapat pada ranah kognitif menurut taksonomi Bloom jika diurutkansecara hirarki adalah sebagaimana terlukis pada gambar I

Keenam jenjang berpikir pada ranah kognitif ini bersifat kontinum dan overlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada dibawahnya. Overlap diantara 6 jenjang berpikir itu akan lebih jelas pada gambar II
Keterangan: (1) Pengetahuan adalah jenjang berpikir paling dasar. (2) Pemahaman, mencakup pengetahuan (3) Aplikasi atau penerapan, mencakup pemahaman dan pengetahuan. (4) Analisis, mencakup  aplikasi, pemahaman dan pengetahuan. (5) Sintesis, meliputi juga analisis, aplikasi, pemahaman dan pengetahuan, (6) Evaluasi, meliputi sintesis, analisis, aplikasi, pemahaman dan pengetahuan.

B.     Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa, sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya. Bila seseorang memiliki penguasaan kognitif yang tinggi, ciri-ciri belajar efektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Misalnya; perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Ada beberapa kategori dalam ranah afektif sebagai hasil belajar; (a) Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan. (b) Responding/ menanggapi. (c) Valuing/ penilaian. (d) Organization/ Organisasi. (e) Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai.

MACAM-MACAM TEORI BELAJAR


Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1.      Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukumbelajar, diantaranya: /p>
Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
  • Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
  • Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
2.      Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  • Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
  • Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
3.      Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  • Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
  • Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
4.      Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.
B.     Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
C.     Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

INCOME (BONUS) 3I – NETWORK

Ajaklah keluarga, kerabat, teman dan kenalan untuk menabung di CAR dan dapatkan PASSIVE INCOME setiap bulan yang akan di transfer langsu...